Kangean,, Sebuah Pulau Yang Bikin Kangen (Mamburid Part)



Bukan cuma laut lepas, Pantai Pasir Putih juga memiliki sisi misterius dengan bebatuan karang besar dan gua gelapnya. Foto ini belum saya koreksi pencahayannya, jadi kelihatan sangat gelap. Agak sedikit seram juga sich foto di situ, khawatir kali aja ada yang ikut foto. Hehehe,, oya, di sekitaran sini saya juga melihat sejenis bintang laut yang lain. Memiliki lima sisi juga tapi setiap sisinya agak panjang dan lembut mirip-mirip lintah gitu, warna hitam. Sayangnya, gak sempat kefoto, keburu seram. Hihihi....

Baiklah, karena hari sudah semakin sore, dan agak mendung, kami pun mencukupi penjelajahan pantai hari itu dan pulang. Dalam pikiran saya, hidangan apa lagi yang bakal saya cicipi malam ini. Hahahaha.... Terima Kasih Oni, dan Aebok.

Kira-kira beberapa hari sebelum kembali ke Malang, kami (saya, Oni, Aebok, Lek Tung Tung dll) beramai-ramai merencanakan perjalanan ke Pulau Mamburid. Dari pelabuhan Pulau Kangean, hanya membutuhkan waktu kurleb lima menit dengan menaiki speedboat (mirip gitu tapi agak gede-an, muat motor juga) untuk sampai ke Mamburid. Ternyata, bukan cuma saya yang excited ke sana, Oni juga walaupun dia asli orang Kangean. Mamburid ini bisa dibilang lokasi wisata juga lho. Sangat terkenal dengan buah sukunnya yang katanya berbeda dengan buah sukun di tempat lain. Buah sukun di sini terkenal manis.

Ketika menunggu giliran menaiki kapal untuk menyebrang, saya sempatkan untuk melihat-lihat karang yang bisa dilihat dengan mata telanjang dari atas jembatan. Bukan cuma karang, bahkan saya juga melihat ubur-ubur, segerombolan ikan-ikan kecil yang kayak di Finding Nemo itu.. duuuh,, indahnya. Sayangnya, karena kamera saya yang kualitasnya standar saja, foto yang lumayan bagus cuma foto karangnya. Batu karang ini berbentuk seperti bunga mawar, berwarna merah pula. Tapi, ya itu tadi, karena kualitas kameranya biasa saja, jadi hasil fotonya juga biasa saja.


Nah, kelihatan kan bentuk bunganya. Pokoknya, bagus daaah.... Tapi, lokasi ini tidak bisa dibuat arena snorkeling ya, soalnya banyak kapal baik besar atau kecil yang pada parkir. Nah, kalau mau mancing, baru bisa. Setelah mendapat giliran menaiki kapal, per orang kami diharuskan membayar Rp 7.000, kalau bawa motor Rp 10.000 seingat saya. Memang agak sesak ya, karena ada yang bawa motor, bawa ikan, bawa.. duuh, macam-macam dibawa. Kapal itu ibarat angkot, bayangin aja gimana kalau angkot penuh, ditambah bau-bau keringatlah, bensinlah, ikanlah. Untung, gak sampe mabok karena perjalanan cuma sebentar, hehe.

Sesampainya kami di pantai Pulau Mamburid, terlihat air laut dengan warna birunya berkilauan terkena sinar matahari. Ahh,, sungguh indah. Pinggiran pantai di sisi sebelah ini memang tidak bisa dibilang bersih. Maklum, itu kan lebih mirip ‘pelabuhan’. Ada yang bilang di pulau ini tidak ada jalan aspal. Yaiyalah, buat apa diaspalin, wong diameternya aja cuma 1 km, dari ujung sini, jalan dikit udah kelihatan tuh ujung pulau sebelah sana. Walaupun tidak ada jalan aspal, disini masih banyak yang memiliki sepeda motor. Aliran listrik dan sinyal juga sudah ada. Sinyalnya malahan lebih baik dari Pulau Kangean sendiri, yang dikenal Pulau terbesar di dalam gugusan Kepulauan Kangean.


Kami lalu menyusuri jalan setapak dari pinggiran pantai menuju “pusat” pulau. Sepanjang jalan, banyak sekali pohon-pohon sukun yang setinggi pohon durian. Saya belum pernah melihat pohon sukun yang setinggi itu. Buahnya kebanyakan berbentuk lonjong, dengan ukuran agak kecil. Aebok, Lek Tung Tung dan emak-emak yang lain, mencari karung untuk mengambil buah-buah sukun yang berjatuhan. Kapan lagi katanya bisa makan sukun Mamburid, gratis pula. Aku hanya senyum geleng-geleng kepala (maklum,,aku sich orangnya rada jaim gitu).

Setelah berjalan santai sekitar 15-20 menit, kami sampai di sebuah rumah penduduk untuk menunaikan sholat zuhur. Di samping rumah itu, ada pula sebuah rumah lain yang kelihatan lebih tradisional dengan gubuk di sampingnya. Lokasi tepat untuk untuk bersantai pada sore hari sambil melihat pemandangan laut biru luas. Ahh,, indahnya. Sebelum sholat zuhur, kami rujakan dulu. Nikmat sekali. Jika anda makan, tentu saja butuh minum kan? Oleh karena itu, Lek Tung Tung lalu membeli sekardus air mineral gelasan dengan harga Rp 30.000. Lumayan mahal ya.
Hasil analisis saya mengatakan, mayoritas penduduk di sini ramah dan menyadari akan keunikan pulau mereka. Buktinya, di pertengahan jalan sebelum tiba disini, kami semua kecape-an dan langsung saja menuju ke teras rumah yang terdekat. Tanpa diminta, tuan rumah membuka pintu dan membentangkan kami sehelai tikar, padahal kami tidak meminta dan sama sekali tidak saling kenal. Bukti berikutnya, tuan rumah yang ada gubuknya dengan baik hati meminjamkan kami piring, pisau, baskom saat kami mau rujakan tadi. Usai rujakan, kami tidak perlu mencuci kembali peralatan makan tersebut.

Hasil analisis saya mengatakan, mayoritas penduduk di sini ramah dan menyadari akan keunikan pulau mereka. Buktinya, di pertengahan jalan sebelum tiba disini, kami semua kecape-an dan langsung saja menuju ke teras rumah yang terdekat. Tanpa diminta, tuan rumah membuka pintu dan membentangkan kami sehelai tikar, padahal kami tidak meminta dan sama sekali tidak saling kenal. Bukti berikutnya, tuan rumah yang ada gubuknya dengan baik hati meminjamkan kami piring, pisau, baskom saat kami mau rujakan tadi. Usai rujakan, kami tidak perlu mencuci kembali peralatan makan tersebut.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 1 siang. Matahari bersinar terang dan garang. Air laut yang biru makin bersinar diterpa cahaya matahari, kelihatan berkilauan. Antara biru dan putih. Subhanallah,, Oleh karena itu, kami pun masuk ke dalam rumah salah seorang penduduk yang katanya Oni saudara jauh Ko Empang (tetangga Oni). Kami semua menunaikan solat disana secara bergantian. Kamar mandinya berada di luar rumah, ciri khas wilayah pedesaan. Terdapat sumur yang bisa digunakan bersama dan toilet khusus buang hajat. Saya lalu menuju ke toilet tersebut untuk tiiit,,, tapi ternyata tidak ada keran dan bak kecil di samping kakus pun kosong. Artinya terpaksa saya menimba sendiri dari sumur. Ahhh,, sudah lama sekali sejak terkahir kali saya menimba air di sumur di kampung ayah di Kutacane, Aceh Tenggara, karena hampir 4 tahun tidak pernah pulang kampung.

Tuan rumah sedang menghidangkan makan siang ketika saya keluar kamar seusai sholat Zuhur. Menunya tidak bervariasi tapi cukup enak. Ikan bakar sambal kecap dan nasi hangat. Awalnya, saya menyangka, ahh pasti rasanya sama seperti ikan bakar lainnya, jadi saya hanya mengambil sedikit nasi dan sepotong ikan karena memang sedikit malu dan ikan bakar bukan termasuk makanan favorit saya. Ternyata,, akibat keenakan ikan tersebut, rasa malu saya pun hilang dan mengakibatkan kuantitas tulang ikan tongkol bakar di dalam piring pun terus meningkat. Hehehe. Kata Aebok, Ikan tongkol di sini lebih enak, berbeda dengan tongkol di Aceh yang keras hingga sering disebut ikan kayu. Ibu Tuan Rumah menambahkan kalau kami bilang dari beberapa hari mau jalan-jalan pasti sudah ditangkapkan ikan tenggiri, tapi karena mendadak datang, yang ada hanya ikan tongkol. Ikan tongkol saja sudah enak begini, apalagi ikan tenggiri ya, pikir saya.


Kami semua melanjutkan makan siang dengan nikmat sekali sambil ngobrol panjang. Mereka terheran-heran dengan saya yang malah menghabiskan liburan di pulau kecil, bukan pergi ke kota-kota besar. Hehe, yah saya sich mumpung masih di ujungnya Jawa, kalau sudah pulang ke Medan, lokasi tujuan liburan saya sudah berbeda lagi. Maklum, saya senang melihat daerah-daerah baru. Kami juga menyempatkan untuk mengambil foto buat kenang-kenangan, biar saya gak lupa katanya.


Sekitar jam 4 sorean, setelah puas “melahap” ikan tongkol bakar, dilanjutkan dengan tidur-tiduran sembari menunggu bahang matahari sedikit mereda, kami pun pamit pulang. Untuk menuju jalan pulang, kami harus melalui jalan setapak yang sama seperti tadi. Tetapi, karena cahaya yang sudah meredup dan berangin, kami tidak terasa capek. Ketika sampai di “pelabuhan” tempat menunggu kapal, Aebok membelikan kami semua es krim tradisonal seribuan. Tidak lama, kapal datang dan kami pun kembali ke Kangean lagi, kembali ke rumah masing-masing. Sungguh sebuah perjalanan yang berharga.



Komentar

Postingan Populer