Pengalaman 'Nyantri' Di Jawa

Sampai sekarang ini sudah hampir empat bulan saya menjadi santri di Pondok Pesantren Tahfiz Al-Quran As-Saadah, Malang. Pondok ini memang agak jauh dari bayangan saya tentang pondok-pondok di Jawa selama ini. Mungkin karena pengaruh pengasuhnya yang masih muda, serta kondisi santri yang notabene mahasiswa dan lokasi pondok yang dekat kota. Dulu, pikir saya jika sudah mondok bakal susah mau kemana-mana, ya kayak waktu masih sekolah dulu. Ternyata tidak sama sekali, asal jujur dan tujuannya benar. Ummah (panggilan untuk pengasuh) orangnya sangat toleransi sekali.

Dalam urusan setoran hafalan Al-Quran, Ummah tidak mentarget harus berapa halaman per harinya. Semampunya, karena menghafal Quran itu bukan untuk dijadikan beban. Tidak ada batasan umur.Yang paling penting adalah menjaga apa yang sudah diperoleh. Untuk mendukung prinsip pentingnya menjaga hafalan, maka sistem yang digunakan di PPTQ As-Saadah juga sudah sangat bagus.

Seluruh santri wajib menjalani proses ujian per juz. Ujian per juz dilaksanakan setiap akhir minggu, yaitu Jumat dan Sabtu. Seluruh santri yang sudah menyelesaikan setoran juz tidak boleh lanjut ke juz berikutnya jika belum ujian. Santri yang menjadi peserta ujian per juz terlebih dulu membaca satu juz dan disimak oleh santri lain, lalu kemudian akan disoal (istilahnya : di bade'), lalu dikomentari mengenai tajwid, atau waqaf dan sebagainya. Bagi snatri yang sudah memiliki simpanan hafalan mulai 5 juz dan kelipatannya maka diwajibkan untuk majlis-an (membaca semua juz yang sudah diperoleh sekali duduk). Misalnya, ia sudah hafal 6 juz, maka ia wajib membaca 5 juz dalam sekali duduk. Jika memiliki hafalan 13 juz, maka yang wajib dibaca adalah 10 juz, begitu seterusnya. Untuk santri yang ingin mendapat sanad (sanad adalah istilah untuk kesinambungan guru-guru untuk menjamin bahwa hafalannya shahih dan sudah disetorkan sesuai guru masing-masing), maka ia wajib membaca seluruh 30 juz hafalnnya dalam sekali duduk (berhenti hanya pada saat sholat, dan makan atau istirahat sebentar). Proses mendapatkan sanad ini menurut saya lumayan berat. Namun, dengan usaha, kerja keras derta doa kepada Allah, maka akan dimudahkan karena Allah sendiri dalam firmanNya menjamin bahwa Dia yang menurunkan Al_Quran maka Dia juga lah yang menjagaNya. Amienn,,,, semoga Allah memberikan kemudahan kepada para Hammilul Quran untuk menjaga kalam suciNya.

Baiklah, untuk sistem sudah saya ceritakan panjang lebar. Mengenai fasilitas, disini sudah melebihi ekspetasi saya. Bagaimana tidak, keluarga ndalem sangat menghormati para penghafal quran sehingga santri-santrinya ini selalu saja diberikan berbagai macam kemudahan seperti wastafel, gedung baru karena gedung yang ada ternyata kurang luas untuk menampung santri. Bahkan, Ummi (panggilan untuk ibu mertua Ummah) berencana untuk memindahkan satu dari dua kulkas yang ada di rumah ndalem ke dapur pondok karena cuaca di Kota Malang sekarang sudah mulai panas. Semoha Ummi, Abah dan seluruh keluarga ndalem dimurahkan rezekinya serta selalu sehat. Amienn...

Mungkin cukup segitu aja dulu ya bagi-bagi pengalamannya. Mau tau lebih lanjut bisa add FB, Farahdina Budiman (inbox dulu tapi karena takutnya gak bakal dikonfir),,hehe
Nie dia santri-santri cantik nan sholehah (amienn) PPTQ As-Saadah :


Komentar

Postingan Populer