Ujian Akhir Semester (Pengalaman Nyantri di Jawa Part II)



Tanggal 26 Desember 2015 kemarin adalah hari terakhir kami santri PPTQ As-Saadah melaksanakan UAS. Ujian Akhir Semester disini sebenarnya tidak jauh beda dengan kegiatan sehari-hari. Hanya jumlah huruf, ayat dan halaman dari Al-Quran yang telah dihafal saja yang menjadi pembeda. JIka setiap hari biasanya tidak ada tuntutan maupun batas setoran, maka pada saat ujian seluruh santri wajib menyetorkan hafalannya dalam waktu 7 hari.Untuk semester ini UAS dimulai pada tanggal 20 Desember dan berakhir pada 26 Desember yang lalu. Ada yang sudah hafal 2 juz, 10 juz, 19 juz dan 25 juz. Semakin banyak jumlah hafalan yang dimiliki, maka tuntutan setoran per hari makin tinggi sedang batas waktu dirasa makin sedikit. Dan hal ini benar-benar membuat lelah baik fisik maupun psikologis. Selama 23 tahun saya hidup, memang baru di sini saya menemukan sistem ujian yang seperti ini. Sebagaimana fitrahnya setiap sesuatu, pasti ada sisi negatif dan positifnya. UAS ini pada hakikatnya bertujuan sangat baik, namun bagi santri UAS bagai momok yang awalnya ku anggap biasa.

Ketika mendengar cerita dari santri-santri lainnya tentang mekanisme ujian ini, dimana setoran disimak oleh pentasmi' dari luar pondok dan dinilai. Dari total 100 jumlah nilai, 50 untuk tahfiz, 25 tajwid, 25 adab. Dan nilai ini nantinya akan dituliskan di rapor. Mendengar adanya "formalitas" berupa jumlah nilai dan rapor, aku tidak menyangka hal ini pada akhirnya menyebabkan sebuah beban secara psikologis. Ku pikir, "ahh terserah mau nilai berapa, biarin,,". Target ku hanya menyelesaikan setoran tepat waktu. Tetapi, ketika hari H tiba, aku salah. UAS ini bukan cuma menguji hafalan, tetapi menguji semua aspek kualitas dan kuantitas kami. Mulai dari kualitas hafalan, kualitas dan kuantitas kesabaran serta ikhlas. Bahkan juga kualitas rendah hati dalam diri (ini khusus aku). Kualitas kesabaran diuji saat kami antri menunggu giliran setor, saat kami disalahkan ketika sedang setoran padahal kesalahan tersebut bersumber dari pentasmi' yang tidak teliti (namanya juga manusia). Bukan hal besar sebenarnya, tetapi seorang penghafal yang ketika sedang asyik membaca hafalannya dan tiba-tiba terdengar kata "SALAH !" dari pentasmi' maka seketika itu juga konsentrasinya buyar lalu menyebabkan ketidaklancaran. Bagi saya, hal ini 80% adalah kesalahan santri sendiri yang mungkin tidak rajin, tidak teliti atau sungguh-sungguh dalam menghafal termasuk saya sendiri.

Pada akhir UAS, Ummah biasanya mengumpulkan seluruh santri untuk menyampaikan sedikit wejangan dan penyemangat. Jika ada santri yang masih belum bisa meyelesaikan setoran untuk semua hafalan yang dimiliki dalam batas waktu yang telah ditentukan, maka ia tetap wajib menyetorkan setelah batas waktu namun nilai tidak kan dicantumkan di rapor. Menurut penilaian saya sendiri, hasil akhir dari berbagai sistem ujian di PPTQ As-Saadah, baik, ujian perjuz, ujian majlisan sekali duduk, maupun ujian akhir semester seperti ini dimana semuanya bertujuan untuk menjaga hafalan para santri bisa dikatakan berhasil walaupun tidak 100%. Kenapa berhasil, berdasarkan apa yang saya lihat dan saya bandingkan sendiri, insyaallah hafalan santri-santri PPTQ As-Saadah kualitas bisa diberi nilai 60-90. Insyaallah,,,,

Komentar

Postingan Populer